Google+
Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 07:12 WIB | Minggu, 19 Mei 2013

Buya Maarif: Saya Ikut Protesnya Romo Magnis

Prof. Dr. Syafii Maarif (Buya Maarif). (Foto: Sabar Subekti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM -  Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafii Maarif mengatakan dia mendukung apa yang dilakukan oleh Prof. Franz Magnis Suseno, SJ yang mengirim surat protes kepada Appeal Conscience Foundation berkaitan rencana pemberian penghargaan oleh yayasan itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Buya Maarif, demikian dia biasa dipanggil, mengatakan hal itu dalam wawancara dengan satuharapan.com , Jumat (17/5) di Jakarta. “Saya setuju dengan apa yang dilakukan Romo Magnis. Saya ikut protesnya Romo Magnis. Saya juga sudah SMS (mengirim pesan-red.) dengan beliau,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa  Romo Magnis mengirim surat kepada ACF, sebuah yayasan yang bermarkas di New York, Amerika Serikat, yang akan memberikan penghargaan World Stateman Awards (Penghargaan Negarawan Dunia) kepada SBY,  berkaitan dengan kebebasan beragama dan hak azasi manusia.

Romo Magnis mempertanyakan, motivasi dan dasar yang digunakan yayasan tersebut untuk memberikan perhargaan. Sementara di Indonesia banyak pemeluk agama yang kesulitan memperoleh izin untuk membuka rumah ibadah, meningkatnya jumlah penutupan gereja secara paksa dan munculnya peraturan baru yang membuat kaum minoritas lebih sulit beribadah.

Romo Magnis juga menyebutkan tentang meningkatnya intoleransi di tingkat akar rumput, serta adanya sikap yang sangat berbahaya dari kelompok agama garis keras terhadap mereka yang disebut menganut ajaran sesat, seperti anggota Ahmadiyah dan komunitas penganut Syiah.

Romo Magnis menilai bahwa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono tidak melakukan apa-apa dan  tidak mengatakan apa-apa untuk melindungi mereka. Itu sebabnya, dia mempertanyakan keputusan ACF untuk memberikan penghargaan itu.

Tentang sikap itu, Buya Maarif memuji surat Romo Magnis, sebagai surat protes yang sangat baik, dengan makna yang mendalam.

Buya Maarif sendiri mengkritik keras terhadap tindakan kekerasan dan intoleransi terhadap penganut agama minoritas. “Pemerintah diam saja. Polisi yang benar tidak berfungsi dan yang muncul ‘polisi-polisi’ swasta yang benar-benar tidak berjiwa Pancasila. Hal ini terjadi karena pemerintah lembek,” katanya.

Dia memberi contoh tentang warga Ahmadiyah di Lombok yang mengungsi selama bertahun-tahun. Dan negara diam saja. “Saya tidak setuju dengan teologi mereka, tetapi itu urusan mereka. Tetapi mereka warga negara yang sah dan wajib mendapatkan perlindungan hukum. Secara konstitusional negara wajib memberi perlindungan hukum,” kata dia.

Ata dasar kenyataan-kenyataan itu, dan berbagai masalah lain yang barkaitan dengan kebebasan beragam, Buya Maarif menyatakan setuju dan ikut dengan apa yang dilakukan Romo Magnis. “Saya senang sekali. Dia biasanya begitu halus. Kali ini dia sangat keras dan saya sikapnya sama dengan dia,” katanya.

Editor : Sabar Subekti

HUT BPK Penabur